Suasana rumah Tante Dinda petang itu masih lengang. Hanya tampak satu sepeda motor milik Apoy dan sebuah mobil Kijang terbaru yang baru saja memasuki garasi. Apoy dan kakaknya, Susan, berlibur di rumah Tante Dinda untuk mengisi liburan kenaikan kelas. Tante Dinda sebagai wanita karier sering merasa kesepian karena ia belum bersuami. Ia sangat senang apabila ponakan-ponakannya berkunjung ke rumahnya, apalagi sampai menginap lama seperti yang dilakukan anak dari kakak pertama dan keduanya itu.
Susan baru saja pulang dari rumah Nina saat waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam. Melihat suasana rumah sedang kosong ia segera masuk kamar. Matanya tampak sembab menandakan ia baru saja menangis. Meskipun jauh-jauh hari Susan sudah merasakan perubahan sikap Ari, namun tetap saja kaget dengan keputusan kekasihnya itu untuk tidak meneruskan hubungan mereka lagi. Apalagi di telepon tadi, Ari yang mengatakan bahwa mereka tidak cocok seperti dibuat-buat saja. Tapi Susan juga bukan gadis yang lemah. Baginya, tidak ada alasan baginya untuk menjadi gadis yang cengeng diusianya yang telah menginjak delapan belas.

Pintu kamar Susan tiba-tiba saja terbuka. Kepala Apoy muncul dari balik pintu sambil tersenyum.
Baru datang, Kak??, tanya Apoy sambil ngeloyor masuk meski kakaknya sedang berganti pakaian. Apoy berjalan acuh tak acuh.
Iya..?, jawab Susan singkat. Pikirannya masih sumpek dengan kejadian tadi siang. Segera saja direbahkan badannya di kasur setelah mengganti baju perginya dengan daster tipis.
Kok, lesu gitu.., Kenapa??, Apoy yang baru kelas dua SMP itu menghampiri Susan. Ia juga kemudian merebahkan badannya disamping kakaknya tersebut. Susan hanya diam saja seolah tidak mendengar pertanyaan adiknya. Matanya menerawang melihat langit-langit kamar. Apoy pun akhirnya memperhatikan sepupunya tersebut. Susan memang benar-benar cantik. Kadang-kadang ia merasa lebih senang kalau Susan bukan saudaranya. Mungkin karena seringkali ia tanpa sadar mengagumi tubuh Susan. Entah mengapa akhir-akhir ini minatnya terhadap wanita begitu meningkat. Ia bahkan suka sekali melihat-lihat pose wanita di majalah kosmopolitan milik kakaknya itu. Biasanya ia jadi terangsang dan onani di kamar mandi.
Sret..?, Sepersekian detik posisi tangan Susan bergerak memangku kepalanya sendiri dan tanpa ia sadari belahan baju di dadanya menjadi terbuka. Melihat hal demikian Apoy jadi sedikit canggung. Ia kebingungan sekaligus menyukai pemandangan itu. Apoy agak berdebar-debar ketika ia semakin jelas melihat lekuk buah dada kakaknya yang tampak ranum dan indah. Apalagi tampak tonjolan puting di balik daster tipis itu. Batang Kontollnya terasa sedikit mengeras.
Karena dorongan hasratnya, Apoy memberanikan diri perlahan-lahan mendekati tubuh Susan. Ia merangkul pinggang kakaknya tersebut. Merasakan sentuhan di tubuhnya, membuat rasa sedih Susan semakin mendalam. Air matanya mulai keluar dan ia segera membalikkan badan membelakangi adiknya. Ia tidak mau menangis di hadapan Apoy. Posisi demikian membuat Apoy bisa merangkul Susan dengan leluasa dari belakang.
Kamu cantik deh.., malam ini..?, ucap Apoy tanpa sadar. Susan pun hanya diam saja. Yang ia butuhkan saat ini hanyalah ada orang yang menyayanginya.
Apoy kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Susan. Gadis yang merasa sedang bersedih itu sedikit bergerak lebih mendekatkan badannya ke dalam pelukan Apoy. Ia ingin ada orang yang menghiburnya disaat-saat seperti ini. Respon Susan ini membuat Apoy berani menggerakan tangannya dengan lembut untuk menyentuh bagian bawah buah dada sepupunya. Susan hanya memejamkan mata saja. Posisi tubuh yang berhimpitan itu membuat pikiran Apoy semakin tidak menentu. Apalagi batang Kontollnya yang berhimpitan dengan pantat Susan. Perlahan ia mulai meremas dengan halus buah dada sepupunya tersebut.
Susan pun dalam keadaan sedang sedih menjadi merasa sangat tenang karena adiknya seperti mengerti kesedihannya. Ia tahan terhadap seorang sepupu. Ia juga membiarkan telapak tangan Apoy membelai-belai buah dadanya yang memang tidak memakai beha. Belaian Apoy pada bagian tubuhnya yang sensitif tersebut membuat jantung Susan sedikit berdebar-debar. Tapi ia segera menganggap wajar sentuhan kasih sayang sepupunya tersebut.
Apoy pun mulai berani menciumi bagian tengkuk leher Susan sambil memasukkan tangannya ke dalam daster Susan. Perasaan Susan menjadi sedikit tidak karuan. Ia mulai menyadari bahwa sentuhan sepupunya bukan lagi sentuhan kasih sayang, tapi di satu sisi ia amat menikmati sentuhan itu. Terutama remasan telapak tangan Apoy terhadap puting susunya. Perasaan sedih yang sedang ia alami seperti berganti dengan keinginan untuk terus dibelai. Ia ingin menghentikan Apoy, namun sentuhan itu membangkitkan perasaan lain dalam kesedihannya. Sentuhan-sentuhan halus itu membuat bulu tengkuknya berdiri. Buah dadanya pun menjadi agak mengeras oleh karena sentuhan dan remasan lembut tangan Apoy.
Poy, mmh.., udah ah.., aku kegelian?, akhirnya Susan berusaha menyudahi aktivitas itu.
Ah, aku kan sayang sama kamu?, sahut Apoy sambil sedikit ngos-ngosan. Ia masih saja merabai tubuh sepupunya.
Engh, badanku jadi lemas semua nih?, tanpa sadar Susan berucap sambil setengah merengek. Kemaluannya bagian bawah pun mulai terasa hangat dan lembab.
Apoy tidak menghiraukan perkataan sepupunya tersebut, ia masih terus meremas-remas payudara Susan. Malah ia mulai memasukkan satu tangannya ke dalam celana dalam sepupunya. Bulu-bulu halus di memek Susan pun terasa di telapak tangan Apoy. Iapun menyentuh bibir memek sepupunya itu. Susan menggelinjang. Nafasnya mulai tidak terkontrol. Kesadarannya pun mulai hilang. Sekilas ia hanya menyadari bahwa ia sedang dicumbui oleh sepupunya sendiri. Memeknya sudah mulai berdenyut-denyut.
Apoy secara lembut namun penuh nafsu mulai merebahkan tubuh Susan. Kontollnya seperti ingin membutuhkan sesuatu. Ditindihnya tubuh sepupunya dengan birahi yang mulai tidak terkontrol. Segera saja ia buka kancing daster sepupunya. Tampak dengan jelas kedua belah buah dada sepupunya yang indah itu dengan putingnya yang telah berdiri tegak. Ia langsung mengulumi puting buah dada sepupunya tersebut.
Poy.., ngmhhnghh.., udah dong.., sshh?, ucap Susan ketika sekilas kesadarannya datang. Namun Apoy sudak asyik dengan aktivitas birahinya. Lidahnya mempermainkan puting susu sepupunya dengan penuh perasaan. Mata Susan terpejam dan tangannya membelai kepala Apoy, merasakan kenikmatan jilatan-jilatannya.
Apoy akhirnya mulai tak sabar, ditariknya turun celana dalam sepupunya tersebut. Susan sudah benat-benar dikuasai nafsu. Ia tidak sadar ketika celana dalamnya terlepas. Apoy pun segera memelorotkan celana pendeknya sendiri sampai batang Kontollnya terlihat tegak. Dikangkangkannya kedua kaki Susan dengan perlahan. Kontollnya segera ia arahkan ke dalam pangkal paha Susan.
?Sleep!?, Setengah detik kemudian kontol Apoy mulai memasuki liang memek Susan. Terasa hangat dan empuk. Sesaat Susan seperti tersadar apa yang sedang terjadi, namun kesadarannya langsung hilang ketika Apoy mulai menggerakan pinggangnya naik turun.
Napas Apoy semakin ngos-ngosan tatkala tubuhnya mulai bergerak menindih tubuh sepupunya yang mulus itu. Buah dada Susan bergoyang-goyang karena gerakan sodokan Apoy terhadap tubuhnya. Semuanya seperti tidak dapat dihentikan begitu saja. Kesadaran Susan pun telah musnah berganti kebutuhan untuk dicumbui. Ia akhirnya juga merespon gerakkan yang dilakukan sepupunya tersebut. Memek Susan berdenyut-denyut ketika kontol sepupunya terus bergerak dalam liang memeknya. Pinggangnya bergerak berputar-putar dan sambil merintih penuh rasa nikmat.
Poy.., nghh enghhnak.., enghh terusshhsshh?, rintih Susan dalam kenikmatan.
Desahan Susan membuat nafsu Apoy semakin menjadi-jadi. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa gadis yang sedang ia entot adalah kakak sepupunya sendiri. Konsentrasi Apoy hanyalah pada gerakan tubuhnya yang maju mundur. Batang Kontollnya seperti dipijit-pijit di dalam lubang memek Susan. Ia semakin mempercepat gerakannya karena terasa sesuatu yang mendesak batang Kontollnya.
Engghh.., yang.., engghh lebihhss kerassh..sshh?, Susan mendesah merasa saat itu dirinya telah membubung tinggi. Apoy semakin mempercepat gerakannya. Bunyi kecepak-kecepuk menjadi semakin berirama. Apoy merasa Kontollnya seperti akan meledak. Gerakannya kini telah menjadi hentakan-hentakan. Susan masih terus memeluk erat tubuh sepupunya sambil matanya terus terpejam.
Esshh.., Ahh.., ahh..ampirr.., ashh?, Susan mendesah-desah. Ia merasa tubuhnya sudah hampir mencapai puncak. Gerakan tubuh keduanya menjadi sangat cepat.
Tiba-tiba Apoy menghentakkan badannya dengan keras dan lama ke dalam tubuh sepupunya. Kedua tubuh itu tampak bergetar. Tangan Susan pun memeluk tubuh Apoy tak kalah eratnya. Keduanya telah sampai dipuncak kenikmatan.
Adegan kedua sepupu itu tanpa disadari sebenarnya dilihat oleh Tante Dinda dari balik pintu. Tante Dinda benar-benar bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia sebenarnya ingin segera memasuki kamar itu namun ia segera menyadari bahwa hal itu dapat memperburuk keadaan. Beberapa saat kemudian Tante Dinda melihat keduanya tampak tertidur. Kedua ponakannya itu terkulai lemas dalam keadaan telanjang. Dengan perlahan ia memasuki kamar itu dan mendekati ranjang tempat dua ponakannya tertidur lelap.
Ia mulai menatap wajah kedua ponakannya dengan rasa galau. Mungkin karena aku terlalu sibuk sehingga hal ini sampai terjadi ucapnya dalam hati. Dengan perlahan ia mulai menaiki kasur dan mendekatkan badannya pada tubuh Susan. Dipeluknya gadis ponakannya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Melihat tubuh gadisnya yang sintal dengan buah dada yang ranum membuatnya tersadar bahwa Susan memang mungkin sudah saatnya dewasa. Benar-benar kesalahanku, keluhnya.
Apoy yang merasa ada orang datang mulai terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan dan tampak tantenya memakai daster biru membelakanginya. Lekuk tubuh tantenya tampak indah dalam keremangan kamar. Dalam keadaan setengah sadar, ia masih merasakan kenikmatan yang baru saja dilaluinya bersama Susan. Tak terasa beberapa saat kemaluannya menegang kembali.
Kebutuhan yang mulai mendesak itu membuat Apoy mulai salah tingkah. Tiba-tiba saja ia ingin menyentuh tubuh tantenya yang berada di hadapannya. Apalagi lekuk tubuh tantenya terlihat sangat indah. Namun ia sangat takut apabila tantenya marah. Maka iapun berpura-pura tidur dan memejamkan mata. Dalam keadaan yang mulai birahi kembali Apoy memutar otaknya agar dorongannya tersebut terpuaskan. Maka dengan pura-pura dalam keadaan tidur Apoy menggerakan badannya untuk dapat memeluk tubuh tantenya.
Tante Dinda yang merasa tubuh Apoy bergerak segara membalikkan badan dan memeluk tubuh Apoy. Buah dadanya yang hanya dibalut daster biru terasa menyentuh bagian muka Apoy. Tante Dinda pun mulai membelai kepala Apoy dengan penuh kelembutan. Diperhatikan ponakan laki-lakinya dari atas kepala dan turun ke bawah. Pasti banyak yang naksir, ucap tante Dinda dalam hati melihat kepolosan wajah ponakannya itu.
Tiba-tiba wajah Tante Dinda memerah. Tak sengaja matanya menyapu kontol Apoy yang agak menegang. Ia berusaha menenangkan diri bahwa yang dihadapannya adalah keponakannya sendiri. Namun jantungnya semakin berdebar-debar. Apalagi diusia yang telah memasuki usia tiga puluh tahun ini ia belum pernah disentuh laki-laki. Kebutuhan seksualnya selama ini ia alihkan dengan menyibukkan diri pada pekerjaan. Sebagai wanita matang, selama ini ia belum pernah melihat tubuh laki-laki dewasa dalam keadaan telanjang. Tubuh Apoy pun juga mulai mekar di usia enam belas tahun itu. Tiba-tiba kepala tante Dinda terasa agak berkunang-kunang.
Tanpa sadar tangan Tante Dinda mulai bergerak mendekati batang kontol Apoy. Dengan perlahan-lahan agar Apoy tidak terbangun, Tante Dinda mulai menyentuh batang kontol Apoy. Terasa hangat dan agak keras. Dibelai-belai batang kontol itu dengan penuh kelembutan. Ia membayangkan andai saja batang kontol itu mendesak-desak di lubang memeknya. Matanya mulai terpejam. Tanpa sadar tangannya yang sebelah meremas buah dadanya sendiri. Terasa ada cairan hangat mengalir di dalam kemaluannya. Mau tidak mau Tante Dinda mengakui bahwa ia mulai terangsang setelah menyentuh batang kontol Ponakannya.
Tiba-tiba saja tangan Apoy bergerak. Rasa kaget itu membuat Tante Dinda menghentikan sentuhannya. Ia memejamkan mata sambil berbaring dalam keadaan memeluk ponakannya. Harapannya adalah Apoy menganggapnya tidur.
Merasakan apa yang baru saja dilakukan tantenya terhadap Kontollnya, Apoy menjadi berani. Dibukanya ritsluiting atas daster tantenya. Tampak di depan matanya buah dada yang lebih besar dari kepunyaan Susan. Tampak pula tonjolan mungil puting Tante Dinda yang berwarna merah kecoklat-coklatan. Apoy sudah tidak sabar. Ia langsung mengulum puting susu tantenya yang sudah mulai menegang itu. Buah dada tantenya pun mulai terasa mengeras.
Tante Dinda kebingungan dengan apa yang dilakukan ponakannya itu. Sekilas hampir saja ia beranjak bangun. Seharusnya ia menegur yang dilakukan ponakannya itu. Tapi jangan-jangan ia tahu apa yang tadi kulakukan, pikir Tante Dinda. Ia menjadi takut sendiri kalau hal itu benar-benar terjadi. Pasti bisa memalukan dirinya jika ponakannya melapor pada mamanya.
Akhirnya dengan pasrah, Tante Dinda tetap berpura-pura tidur. Apalagi sentuhan lidah Apoy pada putingnya membawa kenikmatan yang luas biasa. Bahkan ia mulai menikmati sepenuhnya ketika kuluman Apoy disertai gigitan kecil. Tante Dinda pun mengigit bibir karena cumbuan ponakannya.
Ssshh..?, tanpa sadar Tante Dinda mendesah penuh kenikmatan saat Apoy mengulum puting buah dadanya. Ia pun memegangi kepala ponakannya dengan penuh kelembutan seperti tidak boleh membiarkan aktivitas itu berhenti. Kesadarannya mulai kabur dan seluruh sendi tubuhnya menjadi sangat lemas.
Apoy tahu bahwa tantenya berpura-pura tidur. Ia juga tahu kalau tantenya benar-benar menikmati semua yang dia lakukan pada tubuh tantenya itu. Hal ini semakin membangkitkan keberaniannya. Ia segera membuka daster Tante Dinda sambil terus mengulum puting serta meremas-remas tubuh Tante Dinda. Dijilatinya seluruh tubuh tantenya.
?Enghh.., ahhng.., ahh.., nggssh?, Tante Dinda mendesah tanpa mampu menahan apa yang dilakukan ponakannya tersebut. Tubuhnya seperti tidak mau berhenti dijilati. Saat ini dia hanya ingin terus disentuh dengan penuh kemesraan.
Napas Apoy mulai ngos-ngosan. Kebutuhannya untuk memuaskan dorongan kebutuhannya membuat ia segera membuka celana dalam Tante Dinda. Pemandangan bulu-bulu halus di sekitar kemaluan tantenya membuat Apoy semakin bernafsu. Diarahkan batang Kontollnya ke dalam selangkangan tante Dinda.
?Sleep!?, Batang Kontollnya pun telah masuk ke dalam lubang memek tantenya. Tante Dinda merasakan tubuhnya dimasuki sesuatu yang terasa luar biasa enaknya. Matanya terpejam sangat dalam. Tubuhnya mulai merespon gerakan naik turun Apoy. Nafasnya tidak teratur dipenuhi dengan dorongan nafsu yang mulai tinggi.
?Aahh.., esshh.., ahh?, Tante Dinda mulai mengerang kenikmatan. Ia pun memegangi pantat Apoy untuk membantu gerakan naik turun. Mendengar suara desahan-desahan Susan pun terbangun. Ia sedikit terhenyak melihat tubuh tantenya dalam keadaan telanjang ditindih oleh Apoy. Dilihatnya Apoy dengan penuh nafsu menyetubuhi Tante Dinda. Susan pun agak bingung bahwa Tantenya itu justru merepon dengan desahan-desahan. Tangan Apoy memegangi paha Tante Dinda dan pinggangnya terus bergerak di sela-sela selangkangan tantenya itu. Melihat adegan sepupu serta desahan tantenya dalam ruangan yang remang-remang ini membuat Susan mulai terangsang.
Tanpa sadar Susan mendekati wajah tantenya itu. Diciumnya bibir Tante Dinda. Tante Dinda pun dalam keadaan yang sudah di awang-awang segera merespon ciuman itu dengan lumatan yang penuh birahi. Apoy sudah asyik dengan aktivitas maju-mundur untuk meningkatkan kenikmatannya.
?Eng.., ssh.., nikmat.., Poy?, desah Tante Dinda sambil disela-sela ciumannya dengan Susan. kontol Apoy terasa semakin tersedot-sedot. Suara kecepak kecepok menjadi semakin keras dan berirama sering dengan gerakan kontol Apoy memasuki liang memek Tante Dinda.
Susan semakin larut dengan permainan tante dan sepupunya itu. memeknya pun telah menjadi basah karena terangsang melihat adegan sepupu dan tantenya itu. Kepala Susan kemudian bergerak turun. Bibirnya mengulum puting dan tangannya meremas-remas buah dada tantenya.
Enghss.., enghh.., terusshhin.., engshh?, Tante Dinda semakin merasa terbang di awang-awang. Gerakan Apoy membuat memeknya terasa sangat nikmat. Jilatan lidah Susan pada putingnya semakin membuat nafsunya menjadi-jadi. Nafasnya menjadi semakin tidak teratur. Cumbuan kedua ponakannya memenuhi kebutuhan seksualnya yang sudah tertahan belasan tahun. Tubuhnya pun ikut maju-mundur seiring dengan gerakan Apoy.
Ia pun semakin mempererat pelukannya pada Apoy. Gerakan maju-mundur Apoy diimbangi dengan gerakan bergoyang-goyang oleh Tante Dinda. Aktivitas ini membuat ia merasa ada sesuatu yang mendesak. Tante Dinda semakin mempercepat goyangannya. Ia memeluk Apoy sangat erat sambil terus mengoyangkan pinggulnya dengan cepat. Tiba-tiba tubuh Tante Dinda menegang dan memeknya berdenyut-denyut seperti meledakkan sesuatu. Ia merasa tubuhnya hancur berkeping-keping dalam kenikmatan.
Poy.., ganti aku aja.., Tante udah lemas tuh?, ucap Susan tanpa malu-malu. Ia segera mengangkangkan kakinya. Nafsunya sudah memuncak dan harus dipenuhi. Seluruh bagian tubuhnya seperti menuntut untuk dicumbui.
Apoy pun menarik kontol dari kemaluan tantenya yang telah terkulai itu. Diarahkannya batang Kontollnya itu ke arah lubang memek Susan yang telah mengangkang itu. ?Sleep!?, Kontollnya langsung terasa tersedot-sedot. Ditindihnya tubuh sepupunya itu.
Mereka sudah dikuasai oleh birahi yang tak tertahankan. Kebutuhan itu saling memuaskan membuat tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Apoy menciumi buah dada Susan sambil pinggang melakukan gerakan naik turun. Susan melingkarkan tangannya pada punggung Apoy.
Enghh terusshh.., Poy.., masukin terus.., enggsshh?, desah Susan sambil matanya masih terus terpejam. Dengan perlahan Apoy menarik tubuh Susan agar duduk di atas pinggang Apoy. Posisi ini semakin membuat kontol Apoy lebih bisa masuk lebih dalam lagi. Tangan Apoy memegangi pantat sepupunya itu. Susan juga merasa memeknya terisi lebih penuh oleh batang kontol Apoy.
Apoy semakin merasa Kontollnya disedot-sedot oleh kemaluan sepupunya. Susan yang berada di atas tubuh Apoy mulai menggerakkan badannya. Keduanya telah larut dalam gerakan berirama. Apoy semakin memperdalam gerakannya pada selangkangan sepupunya. Susan pun mencontoh gerakan tantenya dengan menggoyang-goyang pinggangnya.
Enghh.., terus.., Poy.., Enghh enaahkk?, mata Susan terpejam dan bibirnya mendesah. Apoy terus menggerakan pinggangnya semakin cepat. Goyangan Susan pun menjadi samakin cepat pula. Kedua tubuh itu telah menyatu dalam kebutuhan yang tak tertahankan. memeknya terasa semakin berdenyut-denyut oleh sodokan-sodokan kontol sepupunya itu.
Lebihh kerashh.., enghh lagi?, Susan merasakan tubuhnya akan meledak. Gerakan keduanya menjadi semakin cepat dan keras. Tiba-tiba saja tubuh keduanya menegang secara bersamaan tanda mereka mencapai puncak kenimatan bersamaan. Beberapa saat kemudian ketiganya sudah tertidur pulas dalam keadaan telanjang.
Peristiwa semalam tampaknya dianggap seperti tidak pernah ada oleh Tante Dinda. Saat makan pagi, tante Dinda tampak berusaha bersikap santai.
Poy, kamu mau kemana hari ini?, tanya Tante Dinda sambil mengoleskan mentega pada roti tawarnya. Ia sudah mengenakan busana kerja. Blus krem dan rok span abu-abu.
Mungkin ke toko buku, ada novel Shedney Shieldon yang baru?, ucap Apoy sambil berpura-pura membaca koran. Ia masih sungkan dengan Tante Dinda mengingat apa yang dilakukannya semalam. Ia takut kalau sampai Tante Dinda lapor ke mamanya. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Papa, pikirnya.
?Kalau gitu ini buat beli novelnya?, ucap Tante Dinda sambil menyodorkan dua lembar uang lima puluh ribuan. Apoy pun mendongakan kepalanya sambil terheran-heran. Dilihatnya Tante Dinda mengangguk. Tanda ia harus menerima uang itu.
?Makasih ya, Tante?, ucap Apoy sambil menyorongkan badannya memeluk Tante Dinda, Merekapun berangkulan erat.
Tiba-tiba Tante Dinda berbisik?, Yang tadi malem jangan kasih tau siapa-siapa ya, Poy?.
?Iya, Tante?. Kemaluan Apoy terasa mengeras.
?Terus kalau Apoy takut tidur sendirian, tidur di kamar Tante aja ya?, ucap Tante Dinda dengan nada datar. Ia tidak mau Apoy menangkap keinginannya. Namun bagi Apoy kata-kata itu seperti undangan yang sangat jelas maksudnya.
Apoy pun sedikit melonggarkan pelukannya dan melihat wajah Tante Dinda tampak agak memerah. Hasrat untuk melakukan aktivitas seperti semalam menggelegak dalam dirinya. Tanpa sadar diciumnya bibir Tante Dinda. Pertama lembut namun kemudian semakin ganas. Kebutuhannya mulai tak tertahankan. Tante Dinda sempat gelagapan dengan apa yang dilakukan oleh Apoy. Ia tidak mengira Apoy sudah berani terang-terangan. Namun sekian detik kemudian ia mulai membalas ciuman itu. Mereka saling melumat lidah dan menghisap. Ia bahkan membiarkan tangan Apoy membuka kancing blusnya. Tangan Apoy segera menyisihkan BH dan meremasi buah dadanya. Semakin lama buah dada itu terasa mengeras.
?Sudah, Poy. Tante mau ke kantor?, ucap Tante Dinda sambil berpura-pura tidak mau. Namun tampaknya Apoy tidak peduli. Ia mulai menciumi leher tante Dinda dengan lembut. Tangannya yang satu bahkan mulai mengangkat span abu-abu itu hingga celana dalam tante Dinda terlihat. Tangan Apoy pun mulai menggerayangi sesuatu yang ada di balik celana dalam itu.
?Ash.., neghh, udah, Poy?, desah Tante Dinda. Ia tidak ingin terlambat. Tender proyek dua M itu bisa hilang, pikir tante Dinda. Namun apa yang dilakukan ponakannya ini benar-benar terasa nikmat. Akhirnya ia membalikkan badan dan segera menurunkan celana dalamnya.
?Udah, Poy dari belakang aja?, ucap Tante Dinda sunguh-sungguh. Rani, teman kantornya, pernah mengatakan kalau pria bersetubuh lewat belakang akan cepat ejakulasi. Paling tidak ia masih sempat merasakan persetubuhan dan tidak terlambat ke kantor.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Apoy. Dipelorotkannya celana pendeknya. Batang Kontollnya tampak sudah sangat tegang. Perlahan diarahkannya Kontollnya ke memek Tante Dinda. ?Slepp!?, kontol Apoy mulai memasuki lubang memek Tante Dinda. Lututnya seperti hampir copot ketika kontol itu masuk ke dalam lubang memek Tante Dinda. Tante Dinda juga segera merasa lemas. Ia pun segera menahan badannya pada sandaran sofa. Posisinya seperti orang yang akan naik kuda.
?Eenghh.., nikmat, terusshh?, desah Tante Dinda sambil memejamkan mata. Apoy memegangi pinggang tantenya dan terus menyodok-nyodokan Kontollnya ke memek Tante Dinda. Kontollnya terasa seperti dipijat-pijat dan disedot-sedot. Ia kemudian ikut membungkukkan badan agar tangannya dapat meremas buah dada Tante Dinda yang ranum menggantung.
Gerakan mereka makin lama makin cepat. Tante Dinda sudah tertelungkup di sandaran sofa dan Apoy menyetubuhinya dari belakangnya. Kenikmatan itu semakin membuat ia lupa urusan kantornya.
?Terusshh, Poy.., enakk?, desah Tante Dinda.
Beberapa saat kemudian Apoy mempercepat gerakannya. Ia memeluk erat tubuh Tante Dinda namun pinggangya masih melakukan gerakan maju-mundur. Tiba-tiba tubuhnya mengejang sambil Kontollnya disorongkan secara mendalam ke lubang memek Tante Dinda. Ia telah sampai di pucak kenikmatan. ?Cret.., cret.., cret?, sperma Apoy membasahi lubang memek Tante Dinda. Ia kemudian menarik Kontollnya dan segera menjatuhkan badannya ke sofa.
Tante Dinda segera menaikkan celana dalamnya dan merapikan blus serta rok mininya. Dilihatnya ponakannya memandang dengan mesra. Tampaknya kecanggungan diantara mereka sudah luntur dan berganti hubungan dua lawan jenis yang saling membutuhkan. Tante Dinda pun mau tidak mau mulai mengakui bahwa ia tidak lagi melihat Apoy sebagai ponakannya namun tak lain sebagai pria yang mampu memberikan kepuasan seksualnya.
?Udah, ya Tante ke kantor dulu?, ucap Tante Dinda sambil mendekati Apoy. Mereka berciuman dengan mesra seperti seorang kekasih. Setelah melihat jam di dinding, Tante Dinda segera beranjak ke garasi. Ia sudah terlambat sepuluh menit. Tak lama kemudian deru suara mobil pun berbunyi dan semakin lama semakin menghilang. Apoy pun segera memakai celananya dan tertidur di sofa.
0 Komentar